Tuesday, February 8, 2011

Rumah Baru De’Bit.


Pagi itu cukup cerah. Langit bersih, udara pun terasa nyaman. Di kejauhan terdengar suara debur ombak menyapa bibir pantai. Ubiet, yang baru berusia 6 tahun, bergerak lincah memainkan bola dengan kaki-kakinya yang tak beralas sama sekali. Kulitnya coklat terbakar, seperti umumnya anak-anak yang tinggal di daerah pesisir. Rambutnya yang di pangkas sangat pendek oleh Ayahwa Din, kemerahan tanda sering terbakar matahari.
Pagi minggu itu seperti pagi minggu sebelumnya. Seperti setiap minggu yang sudah lewat. Ubiet menapakkan kakinya dengan lincah, sebagai jenderal lapangan dalam pertandingan bola yang rutin dilakukan oleh nyaris semua anak sebayanya di sekitar tempat tinggalnya, Kajhu, Aceh Besar.
Tendangan keras Ubiet tak tertangkap oleh Kiper. Jadilah bola melesat melewati dua ranting pohon yang di pancangkan sebagai gawang. Sorak sorai membahana. Ubiet berlari mengitari lapangan dengan tangan terancung menunjuk langit, seperti gaya seorang bintang sepakbola yang dilihatnya di televisi, yang namanya Ubiet sulit untuk menyebutkan.
Tiba-tiba tanah yang di pijaknya berguncang, membuatnya tersungkur. Belum pulih ia dari keterkejutannya. Ia kembali tersungkur oleh goncangan yang semakin keras. Bumi bergemuruh, gempa.
Ubiet mengatupkan kedua tangannya melingkari kepala. Terbaring ditanah ia melihat pohon-pohon bergoyang. Dahan-dahan mengayun keras. Sementara entah dimana ia mendengar suara kaca pecah. Kemudian gemuruh keras mengiringi runtuhnya sebahagian rumah didekat lapangan. Ketakutan ia memejamkan matanya. Zikir mengagungkan Allah tak sadar meluncur dari bibirnya yang berdarah. Lamat-lamat suara takbir dan azan terdengar entah dari mana. Kemudian goncangan gempa mereda, sunyi.
Ubiet mengangkat kepalanya, perlahan-lahan memberanikan diri untuk berdiri. Masih goyah akibat keterkejutannya, ia melangkah sempoyongan. Seorang temannya menangis ketakutan, sementara yang lain bergerombol dengan bingung.
Ubiet tidak ingat berapa lama mereka berdiri kebingungan ketika ia mendadak teringat rumah dan keluarganya. Dengan tergesa ia memaksa kaki-kakinya berlari pulang. Teringat Mak ngon Ayah , juga adiknya yang masih bayi. Batu yang cukup tajam menggores kakinya hingga berdarah. Namun ia tak menyadarinya. Beberapa puluh meter didepannya ia melihat Ayahwa Din berdiri di depan pagar rumah mereka. Mak berdiri sambil menggendong adiknya. Ayah sedang menghidupkan becaknya. Ubiet menghentikan langkahnya karena rasa perih yang mendadak terasa di kakinya. Mak melambaikan tangan memanggil.
”Ubiet, alahai aneuk meutuah, bagah !!!” teriakan Mak membuatnya kembali mempercepat langkah. Tapi kemudian ia menghentikan langkahnya. Suara gemuruh terdengar mendekat. Seperti suara Kapai Terbang yang pernah didengarnya di Blang Bintang. Matanya terpaku menatap sesuatu yang tinggi menjulang dibelakang rumahnya. Coklat keruh, seperti sungai yang berdiri tegak.
Ubiet masih terpaku ketakutan, ia hendak berteriak tapi semua kata-kata macet dikepalanya. Ia hanya terdiam ketika menyaksikan air yang kemudian baru diketahuinya sebagai gelombang tsunami menerjang rumahnya. Ia melihat Ayahwa Din tersapu air, Mak menghilang dalam pecahan rumah mereka. Ia tak melihat ayah.
Ketakutan, Ubiet memaksakan dirinya berlari menjauh. Gemuruh mengikutinya semakin dekat, diiringi suara teriakan dan derak benda hancur.
Dengan panik Ubie melemparkan dirinya ke dahan sebatang pohon besar. Memaksakan memanjat menuju pucuk pohon. Ia hanya sempat meraih sebuah dahan sekitar 2 meter dari pucuk ketika air menerjang dengan deras. Ketakutan Ubiet memeluk batang pohon. Tangisnya teredam air yang membuat batang pohon terbenam, melebihi pucuk daun yang teratas.
Di dalam arus yang deras Ubiet kecil berjuang mempertahankan udara di dalam paru-parunya. Tanpa sadar kembali lantunan zikir berkumandang di hatinya. Air bergolak keras, berputar dalam arus yang sangat deras. Sesuatu menyentuh tangannya, tapi ubiet tak berani membuka mata. Ia hanya memeluk batang pohon sekuat tenaga yang masih dimilikinya. Lalu tiba-tiba air menghilang …
Terkejut ia memandang sekelilingnya. Didepannya terhampar tanah basah berlumpur dan kosong. Tak ada yang tersisa dari rumah-rumah yang sebelumnya berada disana. Berbalik ia menatap di belakangnya. Air masih tinggi menyapu segala sesuatu kemudian seolah sujud dan terpecah menerjang.
Atap rumah, serpihan kayu, bahkan orang terlihat dalam arus air yang berputar. Seolah menelan segala yang ada didepan gelombang yang sangat besar itu. Kemudian air seperti lelah, melambat, lalu surut kembali ke laut. Ubiet memeluk batang pohon sekali lagi, ketika air melintas dibawahnya. Menggetarkan pohon seolah ingin memaksanya turun.
Masih cukup lama ia berada di atas pohon sebelum akhirnya memberanikan diri untuk turun. Ubiet melangkah dalam genangan lumpur basah berbau amis. Ketakutan ia memandangi hamparan kosong didepan dan dibelakangnya. Ada mayat yang tersangkut, tapi Ubiet tak berani mendekat.
Butuh waktu yang lama sebelum ia mencapai jalan beraspal yang kini juga sebahagian tertutup lumpur. Semua porak poranda. Ubiet melangkah menuju arah ke kota Banda Aceh. Matanya terus menyusuri puing-puing, entah mencari apa ia sendiri tidak tahu. Yang jelas ia menganggap keluarganya sudah tidak ada lagi.
Langkahnya terhenti. Di depannya, terjepit diantara tumpukan kayu, seorang ibu memanggilnya. Tangan ibu itu menjunjung bayi yang menangis tapi tidak terluka sedikitpun. Ubiet mengambil bayi itu, juga dompet yang diberikan kepadanya. Lalu tanpa sempat menyebutkan apapun ibu itu terkulai jatuh.
Mengikuti langkah orang-orang yang juga selamat Ubiet dan si bayi.akhirnya sampai ke gedung TVRI Banda Aceh. Kebingungan ia hanya berdiri di tepi jalan memandangi orang-orang yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Ia menolak ketika seorang ibu ingin mengambil si bayi. Bahkan ia sempat mencakar dan menggigit tangan ibu yang lain ketika memaksa untuk merebut si bayi. Hingga menjelang sore, sepasang suami istri mendekat. Mereka memberinya sebotol air mineral. Tatapan mata mereka lembut, dan menyapanya dengan mengucap salam. Ubiet yang sudah lelah akhirnya menurut ketika mereka mengajaknya ke rumah mereka.
Rahma dan suaminya memperhatikan dengan iba ketika Ubiet menceritakan semua yang dialaminya. Mulut bocah itu penuh dengan nasi, tapi ia tak putus untuk bercerita. Rahma mengusap bulir air mata yang menetes, sementara suaminya mendengarkan dengan tekun. Si bayi terlelap dalam pangkuan Rahma, botol susu masih dipegangnya.
Ubiet yang sedang bercerita tiba-tiba menghentikan ceritanya. Ia teringat pada dompet yang diberikan ibu si bayi. Ubiet meberikan dompet itu pada Rahma, lalu meminta tambahan nasi. Haris, Suami Rahma tersenyum melihat semangat bocah itu.
Rahma membuka dompet wanita berwarna hitam itu, sehelai foto keluarga si bayi terpampang dihadapannya. Air matanya menetes deras ketika menatap wajah Aisyah, adik kandungnya, dengan si bayi dipelukan Andri, Suami Aisyah.
Subhanallah, malaikat kecil di pangkuannya adalah keponakannya. Anak adik astu-satunya yang baru dua bulan lalu melahirkan. Haris memeluk bahu Rahma, juga Ubiet yang kebingungan.
Perlahan Rahma mengecup si bayi, lalu bertanya pada Ubiet. Maukah ia tinggal bersama mereka. Bocah itu mengangguk polos, dan bertanya.
“Kak, boleh minta ayam goreng satu lagi?”

dituliskan kembali oleh: Fadhil Asqar.

berdasarkan cerita yg disampaikan oleh Harris Putra Yusra, Rahmaniati Darwina
dan de'bit (mohammad ramadhan).
saya bertemu mereka di barak TVRI ketika mencari kabar tentang saudara2 saya.

Post a Comment

Start typing and press Enter to search